Wednesday, March 7, 2012

berbagi makna



KH Rahmat Abdullah:

Memang seperti itulah dakwah. dakwah adalah cinta. dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.

bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta. Mengajak kita untuk terus berlari.




miqdad.

we know Allah would never give us something we can't handle 23:62


Tuesday, February 28, 2012

taman di bawah langit.

18022012.


insan yang berdiri di depan taman ini tak punya apa. hatta hati bukan miliknya, apatah lagi dirinya. yang pasti diri itu tetap ingin percaya yang sungguh-sungguh pada Yang Memiliki Segala-galanya. 
Dia kurniakan taman surga di dunia ini. untuk kita sungguh-sungguh gapai taman surga di akhirat.





 kata assyahid imam hassan al banna : '' Andai Islam seperti sebuah bangunan usang yang hampir roboh, maka akan ku berjalan ke seluruh dunia mencari jiwa-jiwa muda. Aku tidak ingin mengutip dengan ramai bilangan mereka, tapi aku inginkan hati-hati yang ikhlas untuk membantuku dan bersama membina kembali bangunan usang itu menjadi sebuah bangunan yang tersergam indah.''

kata aku : aku ingin hati yang ikhlas itu...

'dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya susu yang bersih antara najis dan darah, yang mudah di telah bagi orang-orang yang meminumnya." 16:66






taman dunia itu indah. taman di surga itu lebih indah.


p/s: menaip ini dengan perasaan yang membuak-buak ingin menyatakan rasa sayang ini pada mereka yang saya sayang...

miqdad.


:muslim itu...bukannya superhero yang kebal dari derita, sedih, gundah dan gelisah. akan tetapi, muslim itu membeban semuanya di dunia dan hatinya menunggu khabar baik dari Yang Maha Berkuasa: 


Saturday, February 25, 2012

bulatan itu kenangan surga kita.



malam itu, menghimpunkan pelbagai rasa.  rasa cinta, rasa sayang. rasa sayang yang tersangat la sukar untuk aku ungkapkan di hadapan mereka. yang kalau di ungkapkan pun, aku berasa kan bagai nak mencurah-curah air mata kerana betapa bersyukurnya dengan nikmat-nikmat yang Allah beri ni. ya Allah...

Ya Allah. redhailah semua kami di dunia dan akhirat. Jagalah mereka untukku kerana aku tak mampu bersama mereka pada setiap zaman, setiap waktu walaupun sebenarnya aku sayang.


satu bulatan yang cuba dibina, walaupun pada permulaannya aku berasa malu, kerana aku tidak menghadapi kepayahan-kepayahan untuk memastikan adik-adik ni komited sebagaimana akhwat lain perlu melakukan. namun akhirnya aku percaya, percaya Allah akan menguji aku pada sudut-sudut yang berbeza dengan kehadiran mereka.

melihat mereka bagai melihat diri sendiri setahun yang lalu, 2 tahun yang lalu. semuanya kita bermula dari zero. dan aku percaya pada tarbiyyah Allah. akan mengubah kita dari zero..to hero. insyaAllah.


dan kalau lah kita tengok orang luar, kita kata kita ni istimewa sebab kita ada usrah. kita kata kita ni istimewa sebab kita join dakwah dan tarbiyyah. kita kata kita ni istimewa sebab kita faham i kecil dan I besar tu... tapi sejauh mana kita istimewa tu?

setelah lama kita di atas jalan ini, aku cuba sentiasa muhasabah kembali, benar kah kita telah mengimani dengan sebenar-benarnya inilah jalan yang lurus tu, jalan yang sering kita minta-minta di dalam doa alfatihah kita...

tunjuki kami jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat 1:6-7

short distance yang boleh membawa kita dekat kepada Allah.

kata ummi, kita tak istimewa lagi selagi kita tak beramal sebagaimana yang kita rasa kita istimewa tu... kita tak istimewa lagi selagi mana kita tak beramal. 

dan aku kira meski bulatan-bulatan yang kita bina nampak kecil di mata orang luar, tapi aku ingin percaya ini lah bulatan-bulatan asas untuk membina UA itu.
kalau benarlah kita telah mengimani bahawa jalan dakwah dan tarbiyyah ni tak memerlukan kita, jadi sejauh mana kita beramal untuk ' ya Allah, yang ini untuk Kau'.


miqdad.
daerah ini daerah damai sekalipun sukar untuk sampai



:sometimes ourvision clears only after our eyes washed away with tears: