Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, March 17, 2011

rahmat atau musibah?

ya Allah, aku tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah, namun aku bersangka baik denganMu."


Kisah ini adalah sebuah sejarah kecil pada era Abbasiyah akhir, di mana negeri-negeri Islam tersekat oleh pelbagai kesultanan yang berkuasa sendiri-sendiri. Ini adalah kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah adalah seorang bekas hamba (budak). Sepanjang menjadi hamba, cuti pada petang Jumaat sebagaimana yang ditetapkan oleh kesultanan, dimanfaatkan sepenuhnya dengan berhabis-habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, pada suatu hari dia meminta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan.

“Tuan,”ujarnya. “Apakah dengan membayar harga senilai dengan harga engkau membeliku dulu, aku kan bebas?”
“Hmm…Ya. Boleh.”
“Baik, ini dia,”katanya sambil meletakkan bungkusan wang itu di hadapan tuannya. “Allah telah membeliku dari tuan. Dia membebaskanku. Alhamdulillah.”
“Maka engkau bebas kerana Allah,”ujar sang tuan tertakjub. Sang tuan bangun dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,”katanya berpesan, “Untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang merdeka. Aku berbahagia menjadi sebagian tangan Allah yang membebaskanmu!”

Dengan penuh rasa syukur dan terharu, dan juga sedikit khuatir, dia berkata. “Aku tidak tahu wahai tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, “Apakah kebebasan ini rahmat atau musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.
*******
Tahun demi tahun berlalu. Sang hamba telah menikah. Tetapi isterinya meninggal dunia ketika menyelesaikan tugas sebagai ibu, menyempurnakan susuan sang putera hingga usia dua tahun. Maka dia membesarkan puteranya dengan penuh kasih sayang. Dididiknya anak lelaki itu, untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap berani dan berjiwa merdeka.

“Anakku,” katanya di suatu pagi, “Ayahmu ini dulu seorang hamba. Ayahmu ini separuh manusia di mata agama dan sesama manusia. Tapi selalu ku jaga kehormatan dan kesucianku, maka Allah memuliakanku dengan membebaskanku. Dan jadilah kita orang merdeka. Ketahuilah anakku, orang bebas yang paling merdeka adalah orang yang mampu memilih caranya untuk mati dan menghadap Ilahi.”

“Ketahuilah,” lanjutnya, “Seorang yang syahid di jalan Allah itu hakikatnya tak pernah mati. Saat terbunuh, dia akan disambut oleh tujuh puluh bidadari. Ruhnya menanti kiamat dengan terbang ke sana ke mari dalam tubuh burung hijau di taman syurga, dan diizin baginya memberi syafaat bagi keluarganya. Mari kita merebut kehormatan itu, nak, dengan berjihad lalu syahid di jalan-Nya!”
Sang anak mengangguk-angguk.



Sang ayah mengeluarkan sebuah kantung berisi emas. Dinar-dinar di dalamnya bergemerincing. “Mari mempersiapkan diri,” bisiknya. “Mari kita beli yang terbaik dengan harta ini untuk dipersembahkan dalam jihad di jalan-Nya. Mari kita belanjakan wang ini untuk menghantar kita pada syahid dengan sebaik-baik tunggangan.”

Pada hari siang, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam. Kuda itu gagah. Surainya mekar menjumbai. Tampangnya mengagumkan. Matanya berkilat. Giginya rapi dan tajam. Kakinya tegap. Ringkiknya pasti membuat kuda musuh tak diam.

Semua tetangga datang mengagumi kuda itu. Mereka menyentuhnya, mengelus surainya. “Kuda yang hebat!”kata mereka. “Kami belum pernah melihat kuda seindah ini. Luar biasa! Mantap sekali! Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?”
Anak beranak itu tersenyum simpul. Yah, itu simpan yang dikumpulkan seumur hidup.

Pada tetangga ternganga mendengar jumlahnya. “Wah!,” seru mereka, “Kalian masih waras atau sudah gila? Wang sebanyak itu dihabiskan untuk membeli kuda? Padahal rumah kalian senget nyaris roboh. Untuk makan esok pun belum tentu ada!” Kekaguman di awal tadi berubah menjadi cemuhan. “Pandir!” kata salah satu. “Tak tahu diri!”ujar yang lain.
Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka.

Para tetangga pulang. Sang ayah dan anak itu pun menjaga kuda mereka dengan penuh kasih sayang. Makanan si kuda dijamin yang terbaik; rumput segar, jerami kering, biji-bijian, dedak, air segar, malah bahkan ditambah madu. Si kuda dilatih keras, tapi tak dibiarkan lelah tanpa mendapat hadiah. Kini mereka tak hanya berdua, tetapi bertiga. Bersama-sama menanti panggilan Allah ke medan jihad untuk menjemput takdir terindah.

Sepekan berlalu. Pada hening pagi, ketika sang ayah mejemguk ke kandang, dia tak melihat apa pun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terpatah teruk.
Kuda itu hilang!

Berduyun-duyun para tetangga datang untuk mengucapkan belas kasihan. Mereka bersimpati pada cita-cita tinggi kedua anak beranak itu. Tetapi mereka juga menganggap keduanya tersilap dan malang. “Ah, sayang sekali!” kata mereka, “Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir seketika untuk memuaskan cita-cita kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita-cita kalian!”
Sang ayah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka serentak.

Mereka pasrah. Mereka mencuba untuk menghitung-hitung wang dan mengira-ngira, jika mampu membeli kuda lagi. Sang ayah menatap mata puteranya, “Nak, dengan adanya kuda ataupun tidak, andai panggilan jihad Allah datang, kita harus menyambutnya.”Si anak mengangguk-angguk. Mereka kembali bekerja dengan tekun seakan-akan tidak terjadi apa-apapun.

Tiga hari kemudian, menjelang subuh, kandang kuda mereka riuh. Suara ringkikan bersahut-sahutan. Terkejut dan terjaga, ayah dan anak itu berlari-lari ke kandang. Di kandang itu, mereka melihat seekor kuda hitam yang gagah dan indah. Tak salah lagi, itulah kuda mereka yang pergi tanpa khabar tiga hari yang lalu!

Akan tetapi, kuda itu bukan bersendirian. Ada belasan kuda lain bersamanya. Kuda-kuda liar! Itu pasti kawan-kawannya. Mereka datang dari kawasan luas untuk bergabung di kandang kuda hitam itu. Mungkinkah kuda punya akal? Mungkinkah si kuda hitam yang merasakan layanan terbaik di kandang bekas seorang hamba mengajak kawan-kawannya bergabung? Atau tahukah mereka bahawa kehadiran ke kandangitu bererti bersiap-siaga bertaruh nyawa untuk kemuliaan agama Allah, kelak jika panggilan jihad memanggil? Atau memang itu kah yang mereka inginkan?

“Bertasbih kepada Allah segala yang di langit dan di bumi. Dan Allah  Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (Surah as-Saff 61:1)

Ketika hari semakin terang, para tetangga datang dengan rasa takjub. “Luar biasa!”kata mereka. “Kuda itu pergi memanggil kawan-kawannya dan kini kembali membawa kawan-kawannya menggabungkan diri!” Mereka mengucapkan selamat kepada pemiliknya. “Wah, kalian sekarang kaya raya! Orang terkaya di kampung ini!” Tapi si pemilik kembali hanya tersenyum. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

al-adiyaat~

Hari keesokkannya, sang anak mencuba menaiki salah seekor kuda liar itu. Dia gembira memacu kuda ke segala penjuru. Seketika, kuda liar itu terkejut kerana bertembung dengan seekor lembu yang terlepas dari kandang di persimpangan jalan. Kuda itu meronta kuat, dan sang anak terpelanting. Kaki sang anak patah, dan dia merintih kesakitan.

Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap sang anak itu dengan pandangan penuh hiba. “Kami turut prihatin,”kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa tuah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih baiknya jika tidak memiliki kuda, jika anak sihat sentiasa!”
Sang ayah tersenyum lagi. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya, hulubalang raja mengelilingi negeri. Raja mengumumkan pengerahan psukan untuk menghadapi tentera musuh yang menyerang perbatasan. Semua pemuda yang sihat tubuh badan jasmani dan rohani, wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang sekali, perang ini sukar dikatakan sebagai jihad di jalan Allah kerana musuh yang akan dihadapi adalah sesama Muslim. Mereka hanya berbeza kesultanan.

“Nak,” bisik sang ayah ke telinga anaknya yang sedang berbaring lemah, “Semoga Allah menjaga kita dari menumpahkan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalan-Nya. Kita sama sekali tidak mahu beradu senjata dengan orang-orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu!” Mereka berpelukan.

Para hulubalang datang mengunjungi setiap rumah dan membawa para pemuda yang memenuhi syarat. Ketika memasuki rumah sang ayah dan anak yang memiliki kuda, mereka mendapati sang anak terbaring di tempat tidur dengan kaki berbalut, dibalut dengan kayu dan kain.

“Mengapa dengan pemuda ini?’
“Tuan hulubalang,”ujar sang ayah, “Anak saya ini begitu mahu membela negeri dan dia telah berlatih untuk itu. Tetapi beberapa hari yang lepas, dia terjatuh dari kuda ketika sedang cuba menjinakkan kuda liar kami. Kakinya patah.”
“Ah, sayang sekali!” kata sang hulubalang. “Aku lihat dia begitu gagah. Dia pasti akan menjadi seorang perajurit yang hebat. Tapi baiklah. Dia tidak memenuhi syarat. Maafkan aku, aku tidak boleh membenarkannya turut serta!”

Dan pada hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi oleh putera-putera mereka yang terpilih menjadi perajurit, datang menemui pemilik kuda. “Ah, nasib!”kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami terpaksa melepaskan mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali taua tidak. Sementara anakmu masih di rumah kerena kakinya patah. Beruntunglah kalian! Allah menyayangi kalian!”
Tuan rumah ikut hiba melihat kesediahan di wajah-wajah itu. Kali ini sang ayah dan anak itu tidak tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan tangisan para isteri. Sementara para lelaki hanya termenung dan termangu. Beritanya sudah jelas. Semua pemuda yang berangkat ke perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para penduduk telah banyak belajar dari anak beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini mengucapkan kalimah indah itu. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Disingkatkan cerita, tidak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenar bergema. Pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu wilayah Islamn dan membumi-hanguskannya sehingga rata dengan tanah. Orang-orang Mongol maju menyerang seperti banjir bah, menghancurkan peradaban. Sang ayah dan anak itu memenuhi janji mereka. Mereka bergegas menyambut panggilan jihad dangan kalimah indah mereka, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Kedua-duanya menemui syahid. Namun sebelum itu, ada nikmat yang Allah kurniakan kepada mereka untuk dirasai di dunia. Sang anak telah ditangkap oleh pasukan Mongol dan dijual sebagai hamba. Dia berpindah-pindah tangan pemilik sehingga jatuh ke tangan Al-Kamil, seorang Sultan Ayubbiyah di Cairo. Ketika pemerintahan Mamluk  menggantikan wangsa Ayyubiyah di mesir, kariernya melonjak cepat dari seorang komando kecil kepada panglima pasukan dan kemudian, Amir wilayah. Setelah wafatnya, Az-Zahir Ruknuddin Baibars, sang anak diangkat menjadi Sultan. Namanya, Al-Manshur Saifuddin Qalawun.

Inilah sekelumit kisah tentangnya. Qalawun yang berani, berprasangka baik dalam segala hal. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.” Seperti kisahnya, dalam ukhuwah, ada berjuta-juta kebaikan mengiringi prasangka baik kita kepada Allah. Allah sentiasa bersama kita dan melimpahkan kebaikan, kerana kita mengingati-Nya juga dengan sangkaan kebaikan.

di bawah langitMU, berharap cinta & kasihMu.
Sedutan bahagian dari buku
“Dalam Dekapan Ukhuwah” tulisan Salim A. Fillah
dakwah@info
bersangka baik denganNya

Thursday, February 10, 2011

cerpen: sahabat sejati

assalamualaikum.
alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar.

sebelum itu, maafkan diri ini kerana sudah lama membiarkan blog ini bersawang-sawangan.^^
insyaAllah di kekangan waktu yang ada, mencuba juga mahu meng'update' blog.kerana rindu.& kerana Dia.

saya mulakan kembali penghidupan blog ni dengan perkongsian sebuah cerpen :') saya mengrefleksikan kembali diri sendiri melalui cerpen ini, kerana saya juga pernah melalui sebuah kisah sehingga terabai hak-hak mereka.insyaAllah kembali perbaiki diri demi sebuah cinta jalan ini..atas nama Allah.

 Dalam kita bermujahadah untuk melaksanakan dakwah, banyak perkara yang diambil remeh atau terlepas pandang yang mungkin akan mempengaruhi dakwah gred apa yang akan kita wariskan kepada generasi seterusnya. Penulis buku Al Awaiq, Muhammad Ar Rasyid berkata, "Setiap orang akan bertindak dan memiliki sikap positif sekadar mana dia memahami erti persaudaraan. Ada yang memiliki ketinggian ukhuwwah dan ada yang gugur kerana rendahnya erti ukhuwwah dalam dirinya."


sahabat sejati

Hayati mengemas pakaiannya ke dalam "back-pack"nya, sementara menunggu laptopnya "turn-off". Kemudian, dia memperosokkan sahaja laptopnya ke dalam "back-pack"nya. Zuraida, teman sebilik Hayati memasuki bilik sambil membawa secawan kopi yang baunya semerbak sehingga memenuhi atmosfera bilik mereka.

"Awak tak tido umah malam ni ke?" tanya Zuraida.

Hayati sudah mengagak pertanyaan tersebut, lalu tersengih sahaja.

"Huhu.. Sedihnya saya tinggal sorang-sorang lagi dalam bilik malam ni, tak de orang nak tolong segarkan saya kalau mengantuk masa study," Zuraida merengek.

Hayati memakai tudungnya, sambil meniup-niup bucu tudungnya supaya kemas. "Alah awak ni, tiada keupayaan dan tiada kekuatan melainkan dengan Allah. Doa la banyak-banyak supaya Allah segarkan awak. Kadang-kadang, saya ni menggalakkan awak tido lagi ade lah."

Zuraida mencebik. "Awak tido rumah sape pulak malam ni?"

"Rumah, err.. rumah.. Huda."

Hayati teragak-agak ingin menyebut nama Huda, kerana ini merupakan kali ke 3 dalam minggu itu Hayati bermalam di rumah Huda. Huda merupakan junior kepada Hayati, dia merupakan seorang muslimah yan gmempunyai keperibadian yang tulus, walaupun masih belum memahami tanggungjawab dakwah dan masih belum memahami sepenuhnya erti islam yang syumul.

Sejak Huda baru sampai ke bumi "Down Under" ini, Hayati telah pun menjalinkan hubungan akrab dengannya. Maklumlah, sayanglah sekiranya jiwa yang baik disia-siakan potensinya.

"Awak nak ikut, Zuraida?" Hayati cuba menghangatkan suasana.

Muka Zuraida terus berubah ceria, "Boleh juga!"

Walaubagaimanapun, ada konflik yang berlaku di dalam diri Hayati, dia dapati dalam dia memenangi hati mad'unya, kadang-kadang dia terasakan seperti mengabaikan hak sahabat-sahabatnya yang lain.

Walaupun begitu, sahabat-sahabat serumahnya sangat "supportive", dan sering memberi kata perangsang, serta ada kalanya sekiranya Hayati tidak sempat melaksanakan tugas mengikut "duty roster" rumah, pasti ada sahabatnya yang lain akan membantunya, terutama sekali Zuraida.

"Tunggu saya kemas barang saya kejap ye!"

kelam kabut Zuraida meletakkan cawan kopinya dan terus mengemas barang serta menyalin pakaiannya.

Hayati dan Zuraida berjalan menuju ke stesen bas.

Zuraida melihat jadual bas, "Pukul 5.30 p.m baru bas sampai, sekarang baru pukul 5.15 p.m"

Hayati mengangguk, "Tak pe lah, kita dok sini dulu sembang-sembang"

Zuraida sengih lagi.

"Awak tau tak?" Zuraida memulakan bicara.

"Tak tau, hehe" Hayati berlawak.

"Tak pe lah.. tak jadi bagitau la kalau cam tu.." Zuraida terus merajuk.

"Alah, awak ni.. Saya gurau je.." Hayati cuba memujuk.

Zuraida memaksa dirinya untuk senyum kembali. Entah mengapa, sejak akhir-akhir ini, dia sangat mudah terasa dengan Hayati. Jauh di lubuk hatinya, Hayati merupakan sahabat yang paling dia sayang di kalangan sahabat-sahabat serumahnya. Mungkin kerana itu dia mudah terasa dengan setiap tindak-tanduk Hayati. Namun begitu, Zuraida merupakan orang yang pandai menyembunyikan emosi di sebalik senyumannya yang kelihatan tenang.

"Awak tau tak, dalam banyak-banyak kawan kita.. Awak la yang paling saya?.." belum sempat Zuraida menghabiskan ayatnya, tiba-tiba kedengaran bunyi hon dengan suatu suara kuat.

"Assalamualaikum.. Nak pegi mana tu?" Rupa-rupanya Sufiah. Sufiah "pull-over" kereta kecilnya yang berwarna merah. "Hayati, Zuraida.. Naiklah kereta saye ni. Tak sudi ke naik kereta buruk ni"

"Kami nak ke North Melbourne, are you heading that way as well?" tanya Hayati.

Zuraida yang belum sempat menghabiskan ayatnya, terkejut dengan kedatangan Sufiah. Zuraida tergelak kecil di dalam hatinya, dia terbayangkan Sufiah ibarat Mr Bean yang memandu kereta kumbang. Perbualannya dengan Hayati termati begitu sahaja.

"Come in, come in. Have a ride. I?m heading to Docklands. Boleh drop korang kat North Melbourne." Kata Sufiah.

Dalam kereta, Sufiah memasang lagu UNIC, Sahabat Sejati. Zuraida yang duduk di belakang tiba-tiba membuka bicara, "Yati, ni lagu untuk awak." Hayati senyum, "Terima Kasih". Sufiah pula mencelah, "Saya ni tak de orang nak dedicate lagu ke?". Ketiga-tiga orang sahabat tersebut tertawa.

Zuraidah memandang Hayati yang sibuk berceloteh bersama Sufiah. Zuraida mengalihkan pandangannya ke luar. Lagu terus berkumandang,

"Ku biarkan pena menulis

Meluahkan hasrat di hati Moga terubat segala Keresahan di jiwa Tak pernah ku ingini"

Mungkin Hayati tidak mendapat mesej yang ingin disampaikan oleh Zuraida. 
Zuraida sangat bersyukur kepada Allah, kerana mengurniakan seorang sahabat yang mempunyai semangat juang yang tinggi. Hayati merupakan sahabat fillah yang pertama yang Zuraida kenali. Hayati banyak memberi sokongan kepada Zuraida di dalam pelajaran, maklumlah Hayati pelajar yang cepat tangkap pelajaran. Namun begitu, sejak mereka melangkah ke tahun dua universiti, dan sejak mereka menerima kedatangan adik-adik baru, mereka jarang dapat menghabiskan masa bersama sepertimana dahulu. Zuraida sangat khuatir sekiranya dia ketinggalan, dari segi pelajaran, dari segi dakwah, dari segi tarbiyah, dari segi bilangan mad'u, dari segi segala segi.

Zuraida terus memerhatikan Hayati, ditenungnya sahabat itu puas-puas dan berdoa di dalam hatinya, "Ya Allah terimalah segala amal sahabat ku ini, dan ikhlaskan dia. Dan kuatkan dia sekira dia berasa lemah, dan ikhlaskan dia tatkala dia mengharapkan sesuatu selain Engkau"

Tiba-tiba, Zuraida terasa hatinya sangat lapang. Inilah yang dia mahu rasakan, selama ini perasaannya risau, sedih, bercampur-baur apabila Hayati sudah jarang bersamanya.

Benarlah seperti nasihat Kak Elin, "sekiranya kita ada rasa berat hati dengan seseorang, kita segera doakan kebaikan untuk dia, insya-Allah, syaitan yang cuba hasut kita tu akan lari lintang pukang. Dan malaikat pula akan mendoakan perkara yang sama untuk kita."

Ini membuatkan Zuraida tersedar, bahawa kebergantungan yang mutlak itu terletak pada Allah. Dan sekiranya seorang insan itu tidak diberi penghargaan, dia tetap menjadi seperti pokok. Pokok yang menurunkan buah apabila dibaling batu.

Zuraida mahu berlari seperti orang lain, berlari menuju jannah insya-Allah, sama-sama tabah dan kuat dalam membawa risalah perjuangan anbiya?. Tapi, kadang-kadang, dia letih. Kerana lupa mengukur kapasiti diri. Mungkin kerana terlupa, Allah melihat usaha seseorang, dan bukan natijahnya.

Tapi, menjadi kebiasaan manusia. Sangat mengharapkan hasil positif di depan mata.

Zuraida terkenangkan Nabi Nuh, kisah dakwahnya di dalam Al Quran. Di dalam surah Nuh, Nabi Nuh merintih kepada Allah, beratus-ratus tahun, pagi sehingga malam menyeru kaumnya, tetapi hasilnya, hanya menyebabkan kaumnya semakin jauh daripada Allah.

"Ah, masakan aku yang baru setahun jagung dalam dakwah ini, mudah sangat putus asa ," getus Zuraidah dalam hati.

Hayati melihat "rear-view mirror", ternampak muka Zuraida yang serius. Hayati membisikkan sesuatu kepada Sufiah, dan Hayati membawa keluar "handphone"nya.

Hayati menaip sms, "Salam, Huda. Maaf akak tak jadi ke rumah awak malam ni. Ada hal sikit. Nanti akak hantar pengganti akak pergi umah awak ye, hehe."

Sufiah membuat "announcement", "Baiklah, kita dah sampai Docklands. Selamat makan aiskrim Dairy Bell, jangan lupa saya."

Zuraida tercengang, Hayati turun dari kereta dan membuka pintu belakang, lalu menarik tangan Zuraida. Zuraida tercengang, "Eh, tadi Sufiah kata dia yang nak ke Docklands." Sufiah terus memecut laju ke destinasi barunya. Kereta kecil merahnya berderum hebat.

"Jom la kita makan aiskrim sama-sama. Dah lama tak "outing" berdua," Hayati mengajak Zuraida.

Zuraida akur sahaja. Dia terasa pelik, kenapa tiba-tiba Hayati tidak jadi pergi ke rumah Huda.

Hayati membeli aiskrim Chocolate Chips, dan mengambil 2 batang sudu kayu, "Jom dok kat tepi jeti tu.."

Hayati mula bicara, "Tadi kat stesen bas, awak nak cakap sesuatu kan?."

Zuraida tersenyum sahaja.

Hayati bicara lagi, "Awak tak boleh tipu saya dengan senyum tenang awak nih?."

Zuraida tersenyum lagi. Tapi, senyuman itu diikuti dengan air mata.

"Tadi saya nak cakap lain, tapi sekarang Allah ilhamkan saya untuk cakap sesuatu yang lain kepada awak," kata Zuraida, matanya berkaca-kaca.

Hayati mengangguk, "Cakaplah.."

"Kalau awak nak masuk jannah, jangan tinggalkan saya." Zuraida berkata sambil menahan air matanya yang semakin laju.

Hayati sangat terharu. Dia tidak pernah terbayangkan bahawa ada orang yang akan berkata begitu kepadanya, Hayati tak tahu nak respon macam mana, sedangkan dia sendiri pun terhuyung-hayang dalam perjalanan mencari syurga Allah.

Maksud sepotong ayat Al Quran, " Di hari akhirat, terputus segala perhubungan kecuali orang-orang bertaqwa. " Sungguh mudah untuk bercakap soal ukhuwah islamiyah. Namun nak menzahirkannya payah, apatah lagi hendak mengukuhkannya di dalam hati.

"Saya tahu Allah beri awak banyak kelebihan berbanding saya, moga Allah melindungi saya daripada hasad dan dengki, dan moga Allah menjauhkan awak daripada ?ujub dan riya? ," Zuraidah menghela nafas panjang. Aiskrim Chocolate Chips tidak mampu menarik seleranya.

Hayati terpaku. Dia seakan-akan dapat membaca apa yang dirasai oleh kawannya. Benarlah seperti apa yang dia rasai selama ini, tindak-tanduknya yang banyak mengabaikan hak-hak sahabat-sahabatnya mampu mengundang virus ukhuwah.

"Saya nak minta maaf atas salah silap saya. Saya tau saya banyak tinggalkan awak sorang-sorang. I am lost myself. Kononnya keluar berdakwah tapi, banyak yang lain pula saya abaikan," Hayati mula meluahkan isi hatinya.

Zuraidah berkata, "Saya pun minta maaf, asyik kadang cebik muka. Tapi, tak perlu lah kita mengungkit salah silap kita yang dahulu. Apa yang sudah tu sudah.."

Hayati menyambung, "Betul? Kosong-kosong!"

Zuraidah pula berkatai, "Kosong-kosong!"

"Insya-Allah, kita akan saling mengigatkan. Time kena study, kita pulun habis-habisan. Time kena keluar berdakwah, kita mujahadah sehabis baik, jaga amal fardi.. Kejutkan qiyam, ingatkan supaya puasa sunat!" Hayati mula meng"list-out" perjanjian di antara mereka.
"Kena tunai hak pada semua pihak yang ada hak ke atas kita, kena berlapang dada dan menerima setiap sahabat kita seadanya, saling memperingatkan, walau kita "fastabiqul khairat", mudah-mudahan ada persaingan sihat.. dan last sekali ?outing kat charcoal chicken dengan geng rumah dua minggu sekali, hehe.." Zuraida menyambung.

"Lillahi taala!" Zuraida dan Hayati menyebut kalimah "kerana Allah ta?ala" serentak. Mereka tersenyum sesama sendiri.

"Jom makan aiskrim ni dah cair!!" Zuraida menyogok sesudu aiskrim kepada Hayati.

"Hehe.." Hayati tergelak kecil.

"Er? kita nak tido mana ye malam ni?" Zuraida bertanya.

"Hehe.. tak pe, kita tido kat bilik kita yang best tu lah? Sufiah tido kat umah Huda, insya-Allah" jawab Hayati. Zuraida terbayang Sufiah bersama kereta merahnya menuju ke rumah Huda. Sufiah memang seorang sahabat yang "sporting" dan lucu.

Kedua-dua sahabat itu tersenyum. Moga Allah memberkati persahabatan mereka, dan meneguhkan hati-hati mereka di atas jalan dakwah hingga bertemu denganNya. Itulah doa mereka berdua.